Jas Merah

Blitar (TanahImpian) - Bung Karno selalu mengingatkan kita dengan yargon yang terkenal dengan "Jas Merah" - Jangan Sampai Melupakan Sejarah. Kata-kata tersebut adalah sebuah ajakan yang halus, dan padat makna.

Awalnya tampak "Jas Merah" tak bermakna...
Saya mencoba menterjemahkannya dengan kata-kata orang bodoh seperti saya ini. Bahwa banyaknya budaya impor yang dibawa oleh dua bangsa yang sangat berpengaruh dalam perubahan peradaban budaya kita.

Salah satu ajakan mereka yang sudah merasuki "Nilai-nilai Pola Pikir Bangsa Ini" adalah "Memaafkan Secara Total" dengan ditambah oleh embel-embel "Tuhan saja bisa memaafkan, masa kita tidak bisa memaafkan."

Kalau saya mencoba berfikir secara psikologis. Sebagai perumpamaan atau contoh : Kita memang harus memaafkan orang yang berbuat salah kepada kita / menipu kita, agar kita tidak memiliki "Deposit Pikiran Negatif" yang dapat merusak "Pikiran Positif" kita sendiri.

Tetapi bukan berarti kita melupakan kesalahannya itu sendiri, dan memulainya lagi dari nol, Kalau begitu pola pikirnya, maka kita akan tertipu untuk kedua kali, dan seterusnya.

Persoalannya, mereka menambahkannya lagi dengan kata kunci, "Jangan Lihat Siapa yang Berbicara, tetapi Pahami Maknanya." Sebagai perumpamaan atau contoh : Orang yang telah menipu kita, mengatakan dan menasehati kita bahwa, jangan mengingat-ingat kesalahan orang lain, karena hanya akan membuat sakit pikiran kita. Apalagi kalau dia menambahkan bahwa, kesalahan itu mungkin adalah sebuah ke-khilafan.

Setelah kita pahami dan resapi, maka mereka (si penipu), bisa menipu kita lagi, dan begitu seterusnya... Karena kita sudah menjadi "Kledai" bagi mereka.

Itulah mengapa saya sebut;  Pengaruh Budaya Barat dan Timur Tengah, merupakan Bentuk Penjajahan Terselubung

Kalau kita perhatikan lebih jauh lagi, tidaklah mengherankan kalau banyak permasalahan di Bangsa ini yang menjadi blunder dalam penyelesaiannya.

Jadi "Jas Merah" harus menjadi pegangan kita dalam membangun Bangsa ini. Karena dengan demikian, Bangsa ini akan dapat tetap hidup dengan "Pikiran Sehat."

Maafkan kesalahan orang yang berbuat salah kepada kita, jangan lupakan kesalahannya, agar mereka tidak dapat menipu kita kembali. Inilah pola hidup dengan "Pikiran Sehat." (Sapto Satrio Mulyo)
Foto : Istimewa

Artikel ini sudah pernah terbit di Indonesia Mandiri

Hadapi Invasi Sejarah dengan Sejarah Bangsa

Jakarta (TanahImpian) - Suka tidak suka, sudah sejak lama kita menjadi sasaran invasi sejarah bangsa lain. 

"Perang Senjata hanya Memenangkan Kekuasaan Politik saja, sementara Perang Sejarah Memenangkan Kekuasaan Pola Pikir Bangsa" (Sapto Satrio Mulyo)

Mulai dari "Penghapusan Sejarah Prilaku Bangsa". Ini adalah hal yang paling esensial dari sebuah Bangsa. 

Mungkin Anda bertanya apa yang saya maksud dengan Penghapusan Sejarah Prilaku Bangssa?

Coba tengok ke belakang, penghilangan atau penghapusan pelajaran Budi Pekerti yang notabne adalah Warisan Leluhur kita, dihapus dengan pelajaran Agama, yang kini menjadi rancu, dan melahirkan banyak aliran/mazhab, bahkan hingga aliran yang radikal.

Mereka para orang-orang Arab itu berhasil mengadu domba kita semua.

Ayo kawan kita pelajari sejarah besarnya Leluhur Nusantara, ayo kembali membangun bangsa jangan mau dibodohi dengan serangan sugesti yang mereka hembuskan.

Arab-arab itu pada mengaku pribumi, karema mereka sama-sama berkulit dan berwajah mirip orang pribumi, dan mereka yang melempar kebencian kepada orang-orang Cina.

Orang-orang Arab itu tidak sadar, zaman Belanda, mereka sama-sama menikmati kasta yang sama dengan orang-orang Cina, dan sama-sama menindas Pribumi demi Belanda.

Ayo kawan kita hilangkan sentimen etnis, kini mereka adalaah WNI. 

Himbauan saya, bagi etnis manapun, baik Arab, Cina, atau India yang sudah WNI, cintailah Indonesia dengan sepenuh hati, baik kelebihan maupun kekurangannya.

Tapi kalau kalian masih sering melakukan romantisme asal usul kalian, Pulang sajalah ke negeri kalian, dan jangan mengaku WNI lagi. Dan bagi Pribumi yang terpengaruh oleh ajakan mereka, silahkan enyah dari Ibu Pertiwi, sebagai renungan mungin Anda dapat membaca "Nasehat Orang Dungu : Yang Penting se-Iman"

Ingat kalian mencari makan di Tanah Ibu Pertiwi. Jika Anda berakhlak, paling tidak Anda dapat berterimakasih. (Sapto Satrio Mulyo)

Foto : Istimewa

Komunitas Tanah Impian

Kami ada karena kami tau bahwa kami ada, tapi sebagian lain, mereka lupa bahwa mereka pun ada. Tugas kami mengingatkan, bahwa bangsa kita dahulu adalah bangsa yang besar, untuk itu kami berjuang dengan sejarah.

Sementara yang lain sedang mati suri, kami bangkit menggugah kekuatan terpendam yang sudah berjalan turun temuruh.

Apa itu kekuatan yang sedang mati suri, yakni Kearifan Lokal Bangsa kita.

Sapto Satrio Mulyo